Jumat, Januari 04, 2008

Menyisir Jejak Pamalayu di Dharmasraya


DHARMASRAYA memang sebuah kabupaten baru hasil pemekeran di Sumbar. Berbilang tahun, namun Dharmasraya sendiri memiliki sejarah arkeologi yang panjang. Sejak ditemukannya prasasti Dharmasraya yang dipahatkan di arca Amoghapasa pada tahun 1286 M, daerah yang dibelah sungai Batanghari ini menyimpan khasanah keunikkan bagi pecinta wisata keilmuan dan petualangan.
Jejak sejarah kerajaan Melayu kuno di Dharmasraya sudah ditemukan sejak 1930-an. Penelitian arkeologi secara intensif baru dilakukan tahun 1990-an. Untuk menapak tilas nilai kesejarahan itu Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang melaksanakan ekspedisi Pamalayu 27-29 Desember. Ekspedisi Pamalayu sendiri merujuk kepada ekspedisi yang pernah dilakukan oleh Kerajaan Singosari ke Dharmasraya. Pada masa itu, Dharmasraya sudah memiliki peradaban yang memiliki hubungan dengan dunia luar, baik dengan kerajaan besar di nusantara pada saat itu, yaitu Sriwijaya maupun dengan saudagar China.
Keberadaan kerajaan Melayu di Dharmasraya sudah tersebut semenjak tahun 670-an M. Ketika itu catatan China yang ditulis I-tsing menyebutkan kerajaan Melayu pernah menjadi bagian dari Sriwijaya. Sejarah Melayu di Dharmasraya juga ditemukan pada sebuah prasasti yang pernah ditemukan di Srilangka. Jejak Melayu yang paling kentara adalah pada sejumlah temuan arkeologi di sepanjang DAS Batanghari.
Temuan arkelogis yang mendasar adalah arca Amoghapasa. Arca yang ditemukan di daerah Rambahan Pulau Punjung itu memiliki prasasti yang menyebutkan nama Dharmasraya dalam bahasa Melayu kuno dan Sanskerta. Selain arca Amoghapasa, di Padangroco Se Lansek juga ditemukan arca Bhairawa yang memiliki tinggi mencapai empat meter. Arca yang lebih kecil terbuat dari emas dan perunggu juga ditemukan di hamparan daerah Pulau Punjung, Siguntur, Rambahan hingga Sei Lansek. Jejak Melayu di Dharmasraya terlihat pula dari temuan situs dan candi yang banyak terdapat di kawasan tepian DAS Batang Hari.
Sungai Batanghari yang membelah Sumbar hingga Jambi sepanjang 400 km memiliki arti strategis bagi peradaban Melayu. Bahkan, penelitian arkeologi mengasumsikan daerah sepanjang sungai ini pernah menjadi pusat kebudayaan Melayu. Selain tersebar di Dharmasraya, pusat kebudayaan itu juga meluas ke Pagaruyung hingga Muaro Jambi.
Sebagai sebuah kesatuan sejarah yang pernah memiliki ketautan, menyisir jejak Pamalayu di Batanghari idealnya memang harus menelusuri sepanjang sungai tersebut. Tidak itu saja, bahkan juga musti menyusuri anak-anak sungai sebagai penyangga Batanghari. Begitu panjangnya ekspedisi ini, meliputi daerah di dua provinsi dengan tantangan, mulai dari sungai yang deras, bukit hingga rawa-rawa.
Jejak Pamalayu sendiri di Dharmasraya dalam penelitian arkeologi terdapat di beberapa daerah. Daerah-daerah itu memiliki arti penting arkeologi karena di sana ditemukan benda-benda cagar budaya dan situs yang sampai hari ini masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Situs-situs utama di kawasan ini adalah situs Rambahan yang terletak di Jorong Lubuk Bulang Kenagarian IV Koto Pulau Punjung. Utamanya situs ini karena tempat ditemukannya arca Amoghapasa yang memberikan catatan tentang Dharmasraya. Arca ini ditemukan di daerah gundukan yang dinamakan oleh masyarakat setempat sebagai Bukit Braholo.
Situs lainnya adalah situs Siran. Kawasan di perbukitan yang dibatasi oleh Sungai Siran ini dipercayai sebagai pusat kerajaan Siguntur kuno dahulunya. Jejak kerajaan Siguntur saat ini berkembang di Nagari Siguntur. Di daerah ini ditemukan situs makam raja, rumah gadang dan masjid tua serta sejumlah peninggalan benda-benda bersejarah yang menjadi milik pewaris raja Siguntur yang hingga saat ini masih ada.
Situs Padang Laweh adalah jejak lain Pamalayu di Dharmasraya. Berada di Kecamatan Situang situs ini memiliki keunikan bekas candi yang banyak tersebar. Situs Padangroco jejak lain yang di Sei Lansek. Di sini terdapat komplek candi dan parit yang memperlihatkan tanda adanya pedaban tua di daerah ini.
Situs yang paling unik adalah komplek candi Pulau Sawah. Komplek candi ini terletak di daratan seluas 1 km2 di percabangan sungai Batanghari. Tidak mengherankan, komplek candi ini seperti sebuah pulau yang terletak di tengah sungai.
Masih banyak jejak arkelogi yang terdapat di Dharmasraya yang sampai hari ini masih menjadi misteri. Mengingat pentingnya sungai ini sebagai penopang kehidupan di masa lalu, tidak tertutup kemungkinan, aliran Batanghari sampai ke Muaro Jambi memiliki banyak jejak arkeologi yang belum tergali. Menyisir jejak arkeologi tersebut sambil menikmati tantangan Batanghari tentu menjadi pengalaman yang tak terlupakan. A.R. Rizal

Tidak ada komentar: